Step Up 3D

Friday, December 24, 2010



Waktu edar : 6 Agustus 2010

Waktu menonton : November 2010

Media menonton dan teman menonton : Di bioskop sama Sasmaya

Hal paling berkesan : Dance scene yang pake baju nyala-nyala. Sama 3Dnya.

Some people learn to dance… Others are born to.

Film 3D. Bisa dibilang ini adalah tren yang paling hit or miss. Beberapa merasa dengan adanya 3D, sebuah film akan terasa lebih menghibur. Tapi banyak juga yang merasa 3D itu useless dan hanya mengganggu jalannya cerita. Apapun pendapat anda, satu hal yang pasti adalah : 3D sells. Inilah sebabnya mengapa semakin banyak produser yang menambahkan ‘Bla bla bla 3D’ di filmnya. Saya pernah menonton beberapa film 3D. James Cameron’s Avatar salah satu diantaranya. Membandingkan versi 3D dan non 3Dnya (saya menonton kedua-duanya) saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa saya lebih menikmati menonton versi non 3Dnya. Gambarnya lebih terang, lebih jelas dan untuk saya, 3D tidak menambahkan apa-apa dalam cerita.

Sekarang hadir Step Up 3D. Step Up mungkin adalah sebuah seri film yang tidak penting untuk dibuat. Step Up pertama adalah salah satu film yang melambungkan nama Channing Tatum sebagai pemain utamanya. Sebagai film dance, film itu sangat menghibur dan penuh dengan gerakan-gerakan dance yang keren. Sayangnya, Step Up 2 the Street, sekuelnya, adalah sebuah film yang tidak penting untuk dibuat dan untuk saya, tidak cukup menghibur untuk ditonton. Ketika saya mendengar pertama kali bahwa sekuel Step Up yang terbaru akan dibuat dalam bentuk 3D, saya langsung pesimis dan langsung menilai film ini sebagai salah satu dari puluhan film yang jatuh ke lubang godaan 3D.

Saya sangat salah. Film ini adalah film yang menghibur, dan saya belum pernah merasa terhibur seperti ini dengan 3D dari sebuah film.

Film ini bercerita tentang sekelompok street dancer yang bernaung di sebuah perkumpulan dancer bernama House of Pirates. Perkumpulan itu diketuai oleh Luke, yang mengubah warehouse orang tuanya menjadi studio dance. The Pirates bertekad untuk memenangkan World Jam, sebuah pertandingan dance internasional yang berhadiah 100 juta dolar.

Tokoh utama dari film ini terbagi dua, yaitu Moose dan Luke, dan jalan ceritanya berjalan paralel. Moose adalah penghubung antara Step Up sebelumnya dan Step Up ini, karena dia juga muncul di Step Up 2, bersama love interestnya, Camille. Storyline satu lagi adalah storyline Luke, yang menceritakan perjuangannya bersama Pirates, dan kisah cintanya bersama Natalie, seorang wanita yang ditemuinya di klub miliknya.

Apa sebenarnya yang membuat saya terhibur dari film ini? Dilihat dari jalan ceritanya film ini sangat biasa. Sama dengan Step Up sebelumnya. Bahkan sama dengan film-film dance lain seperti Bring it On dan sekuel-sekuelnya atau Center Stage. Bahkan kalau bisa disamakan, masih ada kesamaan dengan High School Musical. Aktingnya so so, dan tidak ada yang istimewa dari jalan ceritanya.

Mungkin yang membuat saya terhibur adalah, semua kesimpelan dan keringanan film ini membuat otak saya rileks. Tidak perlu berpikir banyak dan tidak perlu menganalisa. Film ini adalah film ringan yang paling menghibur saya tahun ini.

Pertama, adegan dancenya. Adegan dance di film ini tentu saja keren dan memenuhi 2/3 filmnya. Adegan dance dance yang keren terus saja disajikan kepada kita. Jadi untuk yang tidak terhibur melihat adegan-adegan street dance, jangan harap akan terhibur menonton film ini.

Kedua, 3Dnya. Seperti yang saya bilang diatas, film ini adalah film yang membuat pikiran saya berubah soal 3D. Ketika menonton film ini, sangat terasa bahwa sutradara film ini memang sengaja membuat film untuk 3D. Para dancer mengeluarkan kaki dan tangannya dari layar, meloncat keluar dari layar, dan banyak lagi 3D yang diperlihatkan di film ini. 3Dnya tidak cheesy seperti Journey to the Center of the Earth misalnya, tapi tidak juga tidak berguna seperti Avatar dan Toy Story. 3D movie bayangan saya ya seperti ini.

Ketiga dan paling tidak penting adalah eye candy. Pemain Lukenya adalah the ultimate eye candy dan menambah rasa terhibur saya menonton film ini.

Overall, film ini sebenarnya film yang sangat sangat ringan. But sometimes all we need is some smile in our lives. This is the ultimate enjoyable movie this year :)

NB : Sebelum film ini mulai, ada 3 trailer yang diputar. Ketiganya dalam 3D. Filmnya berturut-turut adalah Tron Legacy, Dreamworks’ Megamind, dan Disney’s Tangled. Ketiganya menghibur, dan ketiganya menggunakan 3D dengan baik. Keseluruhan trailer itu ditambah dengan film ini mengubah pendapat saya tentang 3D. The future of 3D movies can be bright after all.

0 comments:

Post a Comment